Afasia perkembangan

Afasia perkembangan

Posted in
No comments
By GUGUS 17 SLB Kab. Bekasi

Afasia perkembangan



Dikenal sejumlah bentuk kelainan atau gangguan wicara pada anak yang pendengarannya normal, antara lain:
* Afasia perkembangan
* Dislogia
* Gangguan pemusatan perhatian atau Attention Deficit Disorders (ADD)
* Disartia
* Autisme

Afasia perkembangan, adalah salah satu bentuk gangguan wicara pada anak yang disebabkan oleh kegagalan perkembangan wicara dan bahasa, tanpa adanya gangguan pendengaran maupun gangguan kecerdasan. Afasia perkembangan terjadi akibat kerusakan pusat wicara di otak. Secara umum afasia merupakan gangguan dalam hal pemahaman dan pengutaraan bahasa (persepsi dan motorik) baik secara lisan maupun secara tertulis.
Afasia perkembangan dibedakan menjadi :
(1) Afasia perkembangan ekspresif, anak dapat mengerti percakapan akan tetapi tidak dapat mengekpresikan konsep jawabannya.
(2) Afasia perkembangan reseptif, dimana terdapat kesulitan untuk memahami bahasa secara memadahi.

Gejala afasia bisa sedemikian ringannya sehingga orang tua dan lingkungan tidak mengetahui atau menyadarinya. Sebaliknya gejala afasia dapat demikian beratnya sehingga pasien sama sekali tidak dapat memahami atau mengucapkan sepatah katapun.
Dislogia merupakan bentuk lain dari gangguan wicara akibat retardasi mental atau kemampuan intelegensi anak di bawah rata-rata usia normal. Anak akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan kemampuan wicara dan bahasa.
Pada gangguan pemusatan perhatian (Attention Deficit Disorders) yang gejalanya antara lain berupa perilaku hiperaktif, perkembangan wicara terganggu akibat terjadinya kerusakan minimal pada otak.

Disatria anak masih dapat mengeluarkan kata-kata namun terjadi kelainan pola bunyi dalam hal produksi dan artikulasi.
Dislalia adalah keterlambatan fungsi wicara dan berbahasa dengan taraf intelegensi normal atau di atas usia normal tanpa ada gangguan pendengaran maupun kerusakan otak.
Autisme adalah gangguan perkembangan pervasif (bersifat luas, berat serta mempengaruhi seseorang secara mendalam).

Autisme ditandai dengan gangguan interaksi dengan orang lain, keterlambatan dan penyimpangan wicara, disertai perilaku yang aneh. Anak terkesan cuek, seolah-olah tidak mendengar karena tidak merespon suara panggilan dari orang yang dikenalnya.
Pada observasi lebih lanjut anak dapat memberikan reaksi terhadap suara dari lingkungannya seperti suara motor, televisi, mesin, hewan, namun tidak merespon suara manusia. Pada pemeriksaan BERA (Brainstem Evoked Response Audiometri) ternyata tidak didapatkan kelainan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa anak terkesan tidak mendengar karena suara tertentu tidak menarik minatnya.

Istimewanya Anak-Anak Istimewa

Istimewanya Anak-Anak Istimewa

1 comment
By GUGUS 17 SLB Kab. Bekasi


Istimewanya Anak-Anak Istimewa

Oleh Untung SDR dari  Dewi Muchtar

Bersama Luthfi Azzuhdi
Saat ini ada 3 sampai 4 juta anak-anak dengan kesulitan belajar spesifik di Indonesia.
Padahal, mereka memiliki potensi intelektual yang baik namun tidak muncul
dalam prestasi belajar di sekolah.
Perasaan Thea, 45 tahun, tak menentu dan jantungnya deg-degan saat kepala sekolah membagikan hasil nilai ujian siswa kelas 6 SD Pantara, yang terletak di Jalan Senopati Raya, Kebayoran Baru, Jakarta.
Seperti ibu-ibu lainnya, Thea tengah menunggu hasil ujian akhir putri sulungnya, Widiarthi Kusumoningtyas, 12, atau yang akrab disapa Ajeng. Tak sampai menunggu lama, wajah ibu tiga putra ini berubah ceria ketika membaca pengumuman yang tertera di lembar kertas ukuran kwarto itu. Matanya terbelalak takjub dengan nilai yang tertera, Ajeng lulus dengan nilai rata-rata 7,5.

Saran Dokter Pribadi
Saat diberitahu bahwa Ajeng berprestasi sebagai juara umum di sekolah, anak itu justru biasa-biasa saja menanggapi. Thea, memahami betul keadaan putrinya yang satu ini, yang disebut sebagai anak learning differences (LD). “Dia memang tidak mengerti apa makna keberhasilannya ini. Dari tadi dia cuek saja tuh. Sama sekali nggak menanyakan apakah dia lulus atau tidak. Tapi, tidak semua ya anak-anak seperti dia berlaku seperti itu, karena ada juga yang sibuk bertanya pada orangtuanya,” ungkap Thea. 
Thea mengetahui Ajeng mengalami kesulitan belajar ketika putrinya berusia tiga tahun. Akibat hiperaktivitas yang ditunjukkan Ajeng sejak masuk sekolah, membuat ibu satu ini terpaksa memindahkan Ajeng dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Ia tak kuat menghadapi putrinya tak dipedulikan oleh guru. Sampai akhirnya Thea mendapat saran dari dokter pribadi Ajeng agar putrinya dimasukkan ke sekolah yang memang spesial menangani anak dengan kesulitan khusus dalam belajar.
Eiit, jangan salah sangka dulu. Meski mengalami kesulitan belajar, Ajeng memiliki otak yang encer. Namun, memang tidak kelihatan ketika dia masih di sekolah umum. ”Karena guru di sekolah umum tidak mengerti penanganan anak-anak seperti Ajeng. Ajeng itu kan selain sulit konsentrasi juga hiperaktif. Perjuangannya sungguh luar biasa. Kalau kelewat dikerasi dia lebih keras dari kita. Sementara kalau dihalusi, dia malah memanfaatkan kelemahan saya.” Saat ini, Thea mengaku sedang mempersiapkan Ajeng menghadapi dunia barunya di SMP umum nanti. Itu artinya Ajeng harus siap bersosialisasi di sekolah yang kenyataannya bukan untuk anak-anak yang memiliki permasalahan dalam belajar; membaca (disleksia), menulis (disgrafia), berhitung (diskalkulia), berbicara (disparksia), dan berkonsentrasi (ADD/ADHD), seperti Ajeng dan teman-temannya di SD Pantara.

Melamun Saat Diterangkan
Ternyata anak kedua Thea, Bambang Wyasa Juliartho, 8, atau akrab disapa Dimas, juga mengalami hal yang serupa dengan kakaknya. ”Tapi, yang sedikit melegakan, kondisi Dimas tidak seberat Ajeng. Kalau Dimas cuma ADD atau bermasalah dalam berkonsentrasi, tapi nggak hiperaktif seperti kakaknya. Kesulitan dia di sekolah, gurunya menerangkan suatu materi pelajaran dia malah melamun. Jadi, kalau dia ditanya, ya dia nggak tahu,” ujar Thea yang baru memindahkan Dimas ke SD Pantara sekitar dua bulan lalu.
Sementara itu Alif, 9 tahun, siswa kelas 3 di sekolah yang sama, menurut Widi, ibunya, kondisinya sama dengan Dimas yang juga mengalami kesulitan berkonsentrasi. Namun, belakangan Widi melihat perkembangan Alif yang cukup baik, karena di luar sekolah putra semata wayangnya itu diikutkan kursus piano. ”Konsentrasi Alif lebih terlatih. Saya melihat, selama memainkan tuts piano konsentrasinya sama sekali tidak terpecah. Sebagai orangtua, terus terang saya tidak begitu mengerti mengenai istilah yang disampaikan dokter tentang anak saya. Tapi saya ingin yang terbaik buat Alif. Makanya, saat dokter bilang dia harus diterapi ini dan itu, saya menurut saja. Yang penting Alif bisa tumbuh seperti anak-anak lain. Butuh kesabaran lebih karena Alif terkadang tulallit,” ujar ibu muda yang pintar bernyanyi ini.

Diperlukan Kerjasama
Apa itu anak LD? Menurut Untung Sudrajat, S.Pd., Kepala SD Pantara, mereka adalah anak atau individu yang memiliki cara atau gaya belajar yang berbeda (learning differences). Pada awalnya dipakai istilah learning disability atau ketakmampuan belajar. Namun, istilah tersebut mulai ditinggalkan karena dinilai memberi konotasi negatif. Seolah-olah mereka adalah anak-anak yang tidak memiliki masa depan dan tidak mampu belajar dengan baik.
Anak LD adalah anak yang memiliki disfungsi minimum di otak (DMO), yang menyebabkan tercampur-aduknya sinyal-sinyal antara indera dan otaknya. Termasuk di dalamnya mereka yang memiliki gangguan konsentrasi dan hiperaktivitas (ADD/ADHD). Meski begitu anak LD adalah individu yang memiliki kecerdasan normal bahkan di atas normal. Tetapi mereka memiliki masalah dalam pemrosesan informasi di otaknya, ketika menerima stimuli melalui indera. Tak heran, karena masalah yang dialaminya, sering ditemukan perbedaan nyata antara hasil tes IQ dengan prestasi akademiknya di sekolah.
”Problem anak LD tidak disebabkan oleh faktor eksternal atau faktor kecacatan fisik dan mental. Melainkan lebih disebabkan oleh disfungsi minimum di otaknya,” ujar Untung. Dikatakan Untung lagi, anak LD biasanya memiliki krisis kepercayaan dalam dirinya. Bahkan mereka juga terlihat kurang dewasa dibanding anak seusianya. Kondisi LD juga cenderung mempengaruhi koordinasi fisik dan perkembangan emosi mereka.
”Sebagai contoh Ajeng. Secara akademik cerdas, bahkan ia mampu meraih predikat juara umum di sekolahnya. Tetapi secara sosial ia kurang pede. Kadang-kadang muncul mekanisme pertahanan diri: sering beralasan atau menyalahkan pihak lain kalau ia melakukan kekeliruan. Namun, kadang pula ia melakukan hal itu tanpa disadarinya secara penuh,” papar Untung lagi.
Kerjasama orangtua dengan guru memang sangat menentukan untuk meraih keberhasilan. Terutama untuk mendorong anak-anak LD ini mampu mengontrol dirinya. Kata kunci yang paling tepat dalam menangani mereka adalah konsitensi. ”Target yang kita harapkan adalah anak dapat mengontrol dirinya sendiri. Intinya bukan dengan menghilangkan gejala seperti orang sembuh dari penyakit—karena LD sendiri bukanlah penyakit. Pihak sekolah hanya berupaya seoptimal mungkin melatih agar mereka dapat mengontrol dirinya sendiri,” urai Untung. 

Download RPP Tematik

Download RPP Tematik

No comments
By GUGUS 17 SLB Kab. Bekasi

Download RPP SD Tematik :

               Alhamdulliah saya temukan  Beberapa Contoh RPP Tematik .
Temen-temen Silahkan download, tanpa dipungut biaya. Hanya saja RPP yang saya upload ini adalah RPP tematik secara umum. Tinggal temen-temen copy+paste dan tinggal diyesuaikanmenurut kebutuhan masing-masing semua file sudah dalam bentuk Ms word. jadi bisa di kurangi dan ditambahkan sesuai dengan keperluan.

Catatan :
  • jangan Lupa Komentarnya di tunggu yah.
————————–————–Semoga Bermanfaat———————————--
Kelas 1 sem 1 :
Tema :
Kelas 1 sem 2
Tema :
tematik kelas 2 sem 1
Tema :
kelas 2 sem 2
Tema :
kelas 3 sem 1 dan 2 :
Tema (lengkap)  :


Selanjutnya  _______________________ Download RPP SD

    DOWNLOAD SILABUS, KTSP. RPP SD / MI

    DOWNLOAD SILABUS, KTSP. RPP SD / MI

    No comments
    By GUGUS 17 SLB Kab. Bekasi



    DOWNLOAD SILABUS, KTSP. RPP SD / MI

    Silabus Pembelajaran Tematik
    Kelas 1 , Kelas 2 , Kelas 3




    PKn ( Pendidikan Kewarganegraan )
    Kelas 1 , Kelas 2 , Kelas 3 , Kelas 4 , Kelas 5 , Kelas 6
     
    PAI ( Pendidikan Agama Islam)
    Kelas 1, Kelas 2 , Kelas 3 , Kelas 4, Kelas 5 , Kelas 6



    KTSP RPP SD IPS
    Kelas 1 , Kelas 2 , Kelas 3 , Kelas 4 , Kelas 5 , Kelas 6 , Silabus Kelas 1,2,3  

    Bahasa Inggris
    Kelas 1 , Kelas 2 , Kelas 3 , Kelas 4 , Kelas 5 , Kelas 6  

    Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan
    Kelas 1 , Kelas 2 , Kelas 3 , Kelas 4 , Kelas 5 , Kelas 6  

    Bina Bahasa Indonesia Kelas 1 s/d 6 Silabus , RPP 

    SAINS Kelas 1 , Kelas 2 , Kelas 3 , Kelas 4 , Kelas 5 , Kelas 6  

    MANDARIN Kelas 1 , Kelas 2 , Kelas 3 , Kelas 4 , Kelas 5 , Kelas 6 


    Penilaian Ranah Afektif

    Penilaian Ranah Afektif

    No comments
    By GUGUS 17 SLB Kab. Bekasi

    Penilaian Ranah Afektif 

    Penilaian ranah afektif sepetinya belum mendapat porsi yang lebih dibandingkan dengan penilaian ranah kognitif dan psikomotor, masih banyak para pendidik yang menilai ranah ini kurang memperhatikan rambu-rambu serta pedoman yang telah diterbitkan oleh pemerintah. Maklum penilaian ini banyak sekali variabelnya sehingga sulit untuk memedomaninya dalam memberikan nilai kepada peserta didik.
    Menurut PP nomor 19 tahun 2005 pasal 65 ayat 2 menyatakan bahwa penilaian hasil belajar untuk semua mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan merupakan penilaian akhir untuk menentukan kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan.
               Oleh karena itu penilaian ranah afektif harus dilakukan secara obyektif dan proporsional yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Di bawah ini beberapa kesimpulan yang dapat kami ambil dari petunjuk teknis penilaian akhlak mulia.

    Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral;
    a. Sikap
    Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.

    b. Minat
    Minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian (Getzel, 1966).

    c. Konsep diri
    konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik.

    d. Nilai
    Nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan (Tyler, 1973:7). Target nilai cenderungmenjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif.

    e. Moral
    Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan oranglain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang.

    Komponen penilaian afektif seperti yang tercantum dalam Standar Kompetensi Lulusan meliputi:
    1. memiliki keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai ajaran agama masing-masing yang tercermin dalam perilaku sehari-hari,
    2. menunjukkan sikap percaya diri dan bertanggung jawab atas perilaku, perbuatan, dan pekerjaannya,
    3. menunjukkan sikap kompetitif dan sportif untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang pendidikan jasmani, olah raga, dan kesehatan,
    4. menganalisis sikap positif terhadap penegakan hukum, peradilan nasional, dan tindakan anti korupsi,
    5. mengevaluasi sikap berpolitik dan bermasyarakat madani sesuai dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sikap cermat dan menghargai hak atas kekayaan intelektual,
    6. menunjukkan sikap toleran dan empati terhadap keberagaman budaya yang ada di masyarakat setempat dalam kaitannya dengan budaya nasional,
    7. menunjukkan sikap peduli terhadap bahasa dan dialek, dan
    8. menunjukkan sikap kompetitif, sportif, dan etos kerja untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam bidang iptek (Lampiran Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan);
    Aspek afektif dominan pada masing-masing kelompok mata pelajaran, diantaranya:
    1. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Pendidikan Agama meliputi aspek penanaman nilai–nilai akhlak
    2. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaran meliputi pembentukan karakter bangsa yang adaptif terhadap keberagaman, mampu berpikir kritis dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sosial, politik, ekonomi, budaya dan keamanan, dan mampu menerapkan dalam kehidupan seharihari
    3. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia meliputi santun dalam berkomunikasi, responsif dalam mendengarkan dan mampu menyampaikan pendapat/pertanyaan sesuai dengan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar, dan antusias dalam membaca
    4. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Asing lainnya yang meliputi santun dalam berkomunikasi, responsif dalam mendengarkan dan mampu menyampaikan pendapat/pertanyaan sesuai dengan kaidah berbahasa Inggris dan bahasa Asing lain yang baik dan benar, dan antusias dalam membaca
    5. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi meliputi ketelitian, ketekunan, dan kemampuan memecahkan masalah secara logis dan sistematis
    6. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Sejarah, Geografi, Sosiologi, dan Antropologi meliputi menanamkan semangat kebangsaan, cinta tanah air, kebersamaan/kekeluargaan, semangat perjuangan dan kompetisi, menghargai perbedaan, menghargai budaya dan karya artistik bangsa, menghargai kekayaan alam ciptaan Tuhan YME
    7. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Ekonomi meliputi kemampuan memecahkan masalah yang berkaitan dengan ekonomi, menanamkan sikap teliti, jujur, dan memiliki jiwa kewirausahaan
    8. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Seni Budaya meliputi kepekaan rasa, toleransi, menghargai/ mengapreasi karya seni dan daya kreativitas
    9. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang meliputi pembentukan nilai dan pembiasaan pola hidup sehat
    10. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi yang meliputi belajar mandiri, memecahkan masalah, dan meningkatkan rasa percaya diri
    11. Aspek afektif yang dominan pada mata pelajaran Muatan Lokal disesuaikan dengan karakteristik jenis program muatan lokal yang dilaksanakan dan diikuti oleh peserta didik
    12. Analisis SI/SK/KD adalah kegiatan mengkaji SK dan KD mata pelajaran sebagaimana tercantum pada SI, menganalisis kompetensi menjadi tiga aspek kompetensi yaitu kompetensi afektif, kognitif, dan psikomotorik (Panduan Pengembangan Silabus);

    Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization. Karakteristik afektif mencakup lima aspek yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral. Pengukuran ranah afektif dilakukan melalui metode observasi dan metode laporan diri. Penggunaan metode observasi berdasarkan pada asumsi bahwa karateristik afektif dapat dilihat dari perilaku atau perbuatan yang ditampilkan dan atau reaksi psikologi. Metode laporan diri berasumsi bahwa yang mengetahui keadaan afektif seseorang adalah dirinya sendiri. Pengembangan instrumen penilaian afektif, mencakup sebelas langkah yaitu menentukan spesifikasi instrumen, menulis instrumen, menentukan skala instrumen, menentukan pedoman penskoran, menelaah instrumen, merakit instrumen, melakukan ujicoba, menganalisis hasil ujicoba, memperbaiki instrumen, melaksanakan pengukuran, dan menafsirkan hasil pengukuran.
    Penyusunan instrumen observasi meliputi menetapkan tujuan dan menyusun kisi-kisi. Penyusunan kisi-kisi diawali dengan menentukan definisi konseptual, mengembangkan definisi operasional berdasarkan kompetensi dasar, menjabarkan menjadi sejumlah indikator, dan menulis instrumen;.
    Tim Pengembang Kurikulum sekolah yang selanjutnya disebut TPK sekolah adalah tim yang ditetapkan oleh kepala sekolah yang bertugas untuk merancang dan mengembangkan kurikulum yang terdiri atas wakil kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, guru BK/konselor, dan kepala sekolah sebagai ketua merangkap anggota;
    Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU Guru );
    MGMP sekolah merupakan wadah untuk menyamakan persepsi yang berkenaan dengan mata pelajaran dan dapat dijadikan sebagai tim kerja dalam menyelesaikan tugas-tugas guru terutama perencanaan
    Lebih lengkap mengenai prosedur, rambu-rambu, pedoman dan lembar observasi penilaian tanah afektif dapat anda baca di Petunjuk Teknis Penilaian Ranah Afektif dari Bimtek KTSP tahun 2010. Semoga bermanfaat.

     

    Copyright © 2013 Gugus 17 SLB Kab. Bekasi. .. BR ..
    Proudly Powered by Blogger.